PETZONE ASIA

 We Bring Pets & Happiness into Your Life
 Anggota PERKIN (Perkumpulan Kinologi Indonesia). No : 12277








"Bergaul ama anjing tuh sama aja dengan berhubungan & berteman ama Manusia.
Kamu juga bisa Marah, Kecewa, Sedih, Gembira & Bahagia. 
Hanya bedanya, kalo berteman ama Anjing, kamu tidak akan pernah Sakit hati."  

Quote by :
Philips Joeng
Professional Dog Trainer &
The Owner of Great Abbarock Kennel






Silahkan Klik Folder2 dibawah ini ( If you need to read this Page in English just Click Select Language ) Follow this --------------- >>>
Memelihara Anjing menurut Hukum Islam

+ dilengkapi dengan Lampiran Fatwa MUI tentang memelihara anjing

Dear all doglovers, saya menulis artikel ini karena banyak sekali pesan2 yang tertuju pada saya baik lisan, atau tulisan spt email atau sms/BBM pasca perdebatan saya dengan beberapa orang di salah satu grup di facebook mengenai anjing. Dewasa ini banyak orang2 muslim yang menunjukan antipatinya terhadap binatang berhati mulia ini..anjing. Ya kenapa? Ada yang bilang anjing itu haram, betul kalau itu dagingnya kita makan. Ada yang bilang liurnya najis...ya najis kan bisa dibersihkan toh?  liur anjing diberi hukuman Najis ketika menjilat bejana bukan menjilat anggota tubuh ataupun bukan menjilat pakaian dll... dan itu ada dalam hadist. Ada suatu cerita ketika saya sedang memberi obat cacing untuk anjing saya. Seorang tetangga bilang “Mas, koq bangus (moncong) nya dipegang? koq gak pake alat?kan kena liurnya haram...” Lalu salah seorang paman saya berujar "ini menyalahi aqidah" well, aqidah yang mana ya? apa definisi aqidah menurut anda? apakah dengan menelantarkan anjing, itu disebut aqidah? Saya kira itu nonsense, ini sama sekali gak ada hubungannya dengan aqidah,  atau ada suatu kejadian ketika saya sedang memandikan anjing ada yg bilang “Mas, kenapa gak pake sarung tangan? Kan bulunya haram kalau basah” Saya kira tidak seperti itu. Islam gak ribet, Islam gak lebay (berlebihan dalam menyikapi sesuatu).
Mengkonsumsi daging anjing'
jelas2 haram... ini yang tidak boleh!

Oke, ada baiknya kita bahas fakta nya satu persatu...ya supaya kita semua dapat pencerahan....













Dalam Al-Qur’an surat Al-An’am berbunyi :

Wamaa min daabbatin fii l-ardhi walaa thaa-irin yathiiru bijanaahayhi illaa umamun amtsaalukum maa farrathnaa fii lkitaabi min syay-in tsumma ilaa rabbihim yuhsyaruun
[6:38] Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Al-Qur’an surat Al An’am ayat 38)
--------------

See? Anjing pun merupakan salah satu dari sekian banyak binatang yang ada dibumi yang merupakan mahluk ALLAH SWT juga. Banyak kasus anjing diperlakukan dengan tidak manusiawi, seperti dipukul... bahkan beberapa tahun lalu ketika saya SMU, saya pernah melihat anjing tersesat (dekat perkampungan tempat saya tinggal di Bekasi daerah bulak kapal permai) diusir dengan cara disiram air karena jalan di sebuah gang sempit tempat pemukiman penduduk padat yang semuanya Muslim. Yang nyiram kayaknya dongkol banget sambil ngomel2 “Binatang najis” (Kira2 yang nyiram sadar gak kalo Anjing itu Mahluk ALLAH juga seperti yang tertulis dalam Al-Qur’an surat Al An’am ayat 38 tsb?). 

Bahkan yang lebih ekstrem lagi ya kasus percun (pemberian racun) pada anjing. Anjing tetangganya lah diracun, dan ini kejadian ama keluarga saya pd waktu saya masih kecil... dulu keluarga kami punya seekor mini pom namanya Polly, diracun ama tetangga (yang sampe sekarang gak tau siapa yg racunin), bukankah hal seperti itu dapat mengganggu keharmonisan hubungan bermasyarakat? Bertetangga? Mengganggu Ukhuwah islamiyah juga kan? Hehehehehe... bener gak? 
Lalu ada lagi pembahasan mengenai liur anjing. Seperti yang saya sebutkan tadi diatas pada awal tulisan ini, liur anjing dihukumi najis ketika menjilat wadah / Bejana, nih dalilnya :

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ
“Sucinya bejana di antara kalian yaitu apabila anjing menjilatnya adalah dengan dicuci tujuh kali dan awalnya dengan tanah.” (HR. Muslim no. 279)

Ada hadist lain mengatakan hal yang serupa...

إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِى الإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ فِى التُّرَابِ
 “Jika anjing menjilat (walagho) di salah satu bejana kalian, cucilah sebanyak tujuh kali dan gosoklah yang kedelapan dengan tanah (debu)” (HR. Muslim no. 280).

Penjelasannya menurut saya adalah, Rasulullah SAW mengajarkan pada kita bagaimana tata cara kita sebagai mahluk yang mulia dalam berinteraksi dengan anjing. Anjing ya anjing, tidak boleh dia makan dari wadah/bejana milik kita.... apapun binatang tersebut saya kira sangat tidak baik jika binatang makan/minum dari wadah/bejana yang kita gunakan sehari-hari. Does it make sense? Cesar milan aja bilang “Dog is a dog, they’re cannot be a human” jadi salah sekali jika kita memanusiakan anjing. Sangat tidak berkeprianjingan jika kita menjoba untuk memanusiakan anjing , yoi gak coy?


Itu adalah masalah etika. Rasullullah SAW mengajarkan kita beretika dalam berinteraksi dengan anjing. Kalo anjing mau makan dan minum, ya kasihlah dia wadah sendiri.. kan banyak tuh dijual di petshop2 atau toko2 mangkuk buat anjing. Atau kasihlah wadah yang hanya dipergunakan untuk anjing... Mengenai liurnya, saya kira tidak masalah karena dalam berinteraksi dengan manusia, anjing mencoba untuk berkomunikasi dengan kita dengan cara menggonggong, bahasa tubuh (body language) dan Jilatan sebagai tanda sayang, mau gak mau dia bisa aja menjilat kaki kita, muka kita, tangan kita, dll... apakah itu dihukumi najis? Well, tidak ada dalil-dalil terutama hadist yang menyebutkan bahwa Liur anjing dihukumi najis jika menjilat anggota tubuh. See?? Rasulullah SAW bukan orang sembarangan, beliau amatlah cerdas, beliau telah memprediksikan bahwa umat muslim akan terpecah menjadi bermacam golongan, ingat? Jika liur anjing dilarang mengenai anggota tubuh kita, pastilah beliau akan secara tegas melarangnya seperti beliau secara tegas memerintahkan untuk mencuci bejana yang terkena liur anjing (seperti halnya dalam hadist beliau..HR Muslim no 279 yang tadi ditulis diatas), jika diluar itu pasti ada fatwa yang melarangnya. 

Well, tentang apa yang terkandung dalam liur anjing, banyak orang berpendapat banyak terdapat bakteri, ya itu sebuah logika formal, logika yang memang akan berjalan seperti itu, lalu bagaimana dialektikanya? Semua ada proses, harus ada penelitian. Betul, tidak salah jika air liur anjing kotor, jangankan anjinhg, manusia juga, kucing juga, rubah juga, dll... Tapi percaya atau tidak percaya, ada sebuah pernyataan ilmu sains menunjukkan bahwa liur anjing mengandung antibiotik yang dapat menyembuhkan luka setidaknya luka pada anjing itu sendiri. 

"People often ask about dogs licking their wounds, and whether that promotes healing or gets in the way of proper healing. There’s nothing quite so pitiful as an injured dog wearing one of those big conical collars to prevent them from doing what they most want to do by nature – lick their wounds." 
(source: http://www.dogguide.net/blog/2008/02/licking-wounds/)

Rasulullah melarang kita memelihara anjing dalam rumah. Mengapa? 

Ada hadist terkait yang berbunyi :  
“ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing (2), juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits sahih ditakhrij oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah yang semuanya dari Abu Thalhah Radhiyallahu 'anhu. Lihat Shahihul-Jami' No. 7262]

Pelarangan ini sebenarnya lebih bertujuan untuk menghindari najis.. Kalo mau kita pikir secara ilmiah, faedahnya apa? Maksudnya apa?

1. Anjing tersebut bisa menakuti tamu
2. Ada kemungkinan anjing menjilat bejana kita
3. Penyakit atau parasit yang dapat menular ke manusia melalui anjing seperti :

a. Rabies
Penyakit menular ini disebabkan oleh Lyssavirus yang hingga kini belum bisa diobati. Meski demikian, pencegahan bisa dilakukan dengan pemberian vaksin anti rabies (VAR) atau serum anti rabies (SAR) asalkan penyebaran virus belum mencapai otak.

Ilustrasi bagaimana Rabies menyerang manusia
Jika sudah mencapai otak, virus yang ditularkan lewat gigitan anjing ini akan melumpuhkan berbagai sistem organ, terutama yang berhubungan dengan pernapasan. Pada tahap yang dinamakan Lyssa, pasien akan mengalami sesak napas hebat hingga akhirnya tewas mengenaskan beberapa jam kemudian.

b. Campylobacteriosis
Penyakit yang menyerang saluran perncernaan ini disebabkan oleh bakteri campylobacter jejuni. Bakteri ini ditularkan oleh binatang peliharaan termasuk anjing, kucing dan burung melalui kontak langsung, kontaminasi air minum maupun konsumsi daging yang belum terlalu matang.

Gejala yang muncul pada campylobacteriosis adalah diare, nyeri lambung dan pada tingkat keparahan tertentu dapat menyebabkan demam tinggi. Jika diare tidak teratasi, risiko terburuknya adalah dehidrasi atau kehilangan cairan tubuh.

c. Penyakit kulit
Jenis penyakit kulit yang sering ditularkan oleh anjing adalah dermatophytosis atau ringworm yang ditandai oleh bercak gatal dengan pola melingkar di kulit. Penyebabnya adalah sejenis jamur yang menular lewat kontak langsung dengan permukaan kulit anjing yang terinfeksi. Penyakit kulit lainnya yang ditularkan oleh anjing adalah scabies yang disebabkan oleh kutu anjing. Kutu ini dapat menyelinap masuk ke bawah permukaan kulit dan menyebabkan ruam merah, kulit bersisik hingga kerontokan rambut di kepala maupun permukaan kulit lainnya.

4. Toxocariasis
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing Toxocara canis ini terjadi di saluran pencernaan anjing dan telurnya bisa terbawa oleh kotoran lalu mencemari tanah. Jika terhirup atau tertelan oleh manusia, telur akan menetas di perut lalu bermigrasi ke jaringan tubuh lainnya.

Itulah kenapa tidak boleh ada anjing didalam rumah tanpa mengesampingkan bunyi hadist tersebut. Lalu apa sebab musabab malaikat tidak mau masuk rumah yang didalamnya ada anjing serta patung/gambar manusia? Tidak ada penjelasan tentang sebab musababnya mengapa, tapi secara logis dapat saya simpulkan bahwa dikatakan dilarangnya anjing karena ada kekhawatiran akan hal2 tadi diatas yaitu untuk menghindari najis serta penyakit2 yang ditularkan anjing ke manusia, dikatakan patung/gambar karena hal tersebut merupakan salah satu jenis berhala. Dulu nabi Ibrahim AS menghancurkan berhala-berhala sehingga beliau dibakar oleh firaun, namun selamat berkat pertolongan Allah SWT.
Pemberian vaksin dan perawatan berkala dapat 
meminimalisir atau bahkan 
mencegah permasalahan kesehatan pada anjing

Namun berbagai masalah penyakit pd anjing bisa dicegah, atau diobati baik dengan vaksin maupun obat2an lainnya, tergantung sejauh mana pemilik peduli akan kesehatan anjingnya.  







Well, Kita boleh koq memakan hasil buruan anjing. Gak haram walaupun anjing menggunakan mulutnya untuk berburu. Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 4 dimana surat tersebut berbunyi :

yas-aluunaka maatsaa uhilla lahum qul uhilla lakumu alththhayyibaatu wamaa 'allamtum mina aljawaarihi mukallibiina tu'allimuunahunna mimmaa 'allamakumu allaahu fakuluu mimmaa amsakna 'alaykum waudzkuruu isma allaahi 'alayhi waittaquu allaaha inna allaaha sarii'u alhisaabi

4. Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?". Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu [399]. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu [400], dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya) [401]. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.


Hal tersebut diperkuat lagi dengan bunyi hadist Rasulullah SAW :

Hadits Muslim 3562


و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمِعْرَاضِ فَقَالَ إِذَا أَصَابَ بِحَدِّهِ فَكُلْ وَإِذَا أَصَابَ بِعَرْضِهِ فَقَتَلَ فَإِنَّهُ وَقِيذٌ فَلَا تَأْكُلْ وَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْكَلْبِ فَقَالَ إِذَا أَرْسَلْتَ كَلْبَكَ وَذَكَرْتَ اسْمَ اللَّهِ فَكُلْ فَإِنْ أَكَلَ مِنْهُ فَلَا تَأْكُلْ فَإِنَّهُ إِنَّمَا أَمْسَكَ عَلَى نَفْسِهِ قُلْتُ فَإِنْ وَجَدْتُ مَعَ كَلْبِي كَلْبًا آخَرَ فَلَا أَدْرِي أَيُّهُمَا أَخَذَهُ قَالَ فَلَا تَأْكُلْ فَإِنَّمَا سَمَّيْتَ عَلَى كَلْبِكَ وَلَمْ تُسَمِّ عَلَى غَيْرِهِ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ قَالَ وَأَخْبَرَنِي شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ قَالَ سَمِعْتُ الشَّعْبِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ يَقُولُا سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمِعْرَاضِ فَذَكَرَ مِثْلَهُ و حَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ نَافِعٍ الْعَبْدِيُّ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي السَّفَرِ وَعَنْ نَاسٍ ذَكَرَ شُعْبَةُ عَنْ الشَّعْبِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْمِعْرَاضِ بِمِثْلِ ذَلِكَ

 

Jika kamu melepas anjing buruanmu setelah menyebut nama Allah, maka makanlah buruan tersebut, selagi anjing buruanmu tak memakannya. Dan telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ayyub telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ulayyah berkata; & telah mengabarkan kepadaku, Syu'bah dari Abdullah bin Abu As Safar berkata; saya telah mendengar Asy Sya'bi berkata; saya mendengar dari 'Adi bin Hatim berkata; saya bertanya kepada Rasulullah tentang mi'radl, lalu menyebutkan sama di atas. Dan telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Nafi' Al 'Abdi telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan .kepada kami

Disitu tersirat sebuah riwayat dimana kita boleh memakan daging hasil buruan anjing, lalu dengan apa anjing berburu? Tentunya tidak dengan busur panah, pasti menggunakan moncongnya untuk menangkap mangsanya. Bukan anjing gila yg menangkap buruan tsb melainkan anjing yang terlatih. Dalam melatih anjing tentunya anjing tsb dirawat, anjing tersebut diberi makan yg layak, diberi vaksin sehingga kesehatannya terjamin, apa ada anjing liar yang bisa tiba2 ngerti tanpa dilatih? Anjing yang terlatih adalah yang dipelihara dengan baik, bukan anjing liar... karena anjing liar berburu untuk dirinya sendiri. See? Anjing yang terlatih ya.... 
Lalu mengenai bulu anjing yang basah yang katanya dihukumi najis ketika kita bersentuhan dengan bulu anjing yang basah...apabila bulu anjing yang basah dan mengenai pakaian seseorang, maka tidak ada kewajiban baginya untuk bersuci sebagaimana hal ini adalah pendapat mayoritas pakar fiqih yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan salah satu dari dua pendapat Imam Ahmad.

Dinyatakan demikian karena hukum asal segala sesuatu adalah suci. Tidak boleh seseorang menajiskan atau mengharamkan sesuatu kecuali jika terdapat dalil yang mendukungnya karena Allah Ta’ala berfirman,:




وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ

“Padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya.” (QS. Al An’am [6] : 119)


Agama Islam adalah agama kasih sayang, perdamaian dan humanis. Oleh sebab itu, maka syari'at islam memiliki tujuan tujuan (maqosid as-syari'ah) yang harus dijaga dan dipenuhi. Tujuan tujuan itu adalah:
Menjaga agama (hifzu al-dien)
Menjaga akal (hifzu al-aqlu)
Menjaga kehidupan (hifzu al-nafs)
Menjaga generasi (hifzu al-nasl)
Menjaga kehormatan (hifzu al-'irdh)
Tujuan-tujuan inilah yang menjadi barometer di dalam hukum halal, haram, makruh (dibenci), dan mubah (boleh) dan lain-lain. Sehingga bila ada perbuatan yang akibatnya dapat merusak salah satu tujuan dari 5 tujuan tersebut, maka hukumnya haram. Contoh: meminum minuman keras atau 'ngedrugs' itu hukumnya jelas haram. Alasannya, perbuatan itu bisa merusak akal, yang mana ini sangat bertentangan dengan tujuan syari'at yang nomor dua yaitu penjagaan akal (hifzu al-'aql). Begitu juga sebaliknya. 

Dalam hadist mengenai hukum najisnya liur anjing jika menjilat bejana Pertama: Kata “إِذَا” (jika) merupakan kata bantu dalam kalimat syarat. Yang bisa dipahami dari kalimat ini adalah jika anjing minum dari bejana atau menjilat, maka hendaklah bejana tersebut dicuci 7 kali. Selain dari meminum atau menjilat tidaklah disebutkan dalam hadits di atas, maka tidak wajib mencuci tujuh kali. Seandainya anjing tersebut hanya meletakkan tangannya di bejana atau mencelupkan tangan di air dan tidak meminumnya, maka tidak wajib mencuci bejana tersebut tujuh kali. Karena syariba (meminum) adalah dengan menghirup air dan walagho (menjilat) adalah dengan memasukkan lidah ke dalam air. Termasuk pula jika air liur anjing jatuh di sesuatu yang bukan zat cair, tidak pula diwajibkan mencuci tujuh kali.
Sama halnya pula jika anjing menjilat atau menyentuh tangan manusia, maka tidak ada kewajiban mencuci tujuh kali. Karena yang dibacarakan dalam hadits hanyalah menjilat atau meminum, tidak untuk yang lainnya. Sehingga yang lainnya tidak berlaku hukum tujuh kali. Air liurnya tetap najis, namun tidak diharuskan dicuci tujuh kali ketika tangan atau badan kita dijilat anjing.
Kedua: Mencuci bejana tujuh kali di atas hanya berlaku untuk anjing saja, tidak untuk babi atau binatang lainnya. Tidak berlaku qiyas dalam hal ini karena kita sendiri tidak diberitahukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kenapa bejana harus dicuci ketika dijilat anjing.
Ketiga: Wajib mencuci bejana seperti piring, gelas, dan ember yang telah dijilat anjing dan pencuciannya sebanyak tujuh kali. Karena dalam hadits di atas digunakan kata perintah “فَلْيَغْسِلْهُ”, yang bermakna “cucilah”, bermakna wajib. Inilah yang menjadi pendapat jumhur ulama, yaitu Syafi’iyah, Hambali dan Hanafiyah.
Keempat: Dalam hadits di atas disebutkan “أُولاَهُنَّ بِالتُّرَابِ”, yang awal dengan tanah. Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan “إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ”, salah satunya dengan tanah. Pada riwayat Tirmidzi dari Abu Hurairah disebutkan “أُولاَهُنَّ أَوْ أُخْرَاهُنَّ بِالتُّرَابِ”, yang awal atau terakhir dengan tanah. Syaikhuna –guru kami- Dr. Sa’ad bin Nashir Asy Syitsri menyatakan, “Pernyataan hadits dengan pertama atau kedua, itu bukanlah keharusan, hanya pilihan. Karena jika ada lafazh mutlak yang di tempat lain disebutkan dua sifat berbeda (yaitu disebut pertama atau terakhir), maka lafazh tersebut tidak terkait dengan dua sifat tersebut. …. Jadi boleh saja pencucian dengan tanah itu dilakukan di awal, atau pada pencucian kedua, atau terakhir.”
Kelima: Dalam riwayat lain disebutkan “وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ فِى التُّرَابِ”, cucilah sebanyak tujuh kali dan gosoklah yang kedelapan dengan tanah (debu). Yang dimaksud di sini adalah salah satu cucian bisa dengan campuran tanah dan air. Jika kita pisah campuran tersebut, maka jadinya tanah dan air itu sendiri-sendiri. Sehingga jadi delapan cucian, padahal yang ada hanyalah tujuh.

Keenam: Apakah pencucian di sini hanya dibatasi dengan turob atau debu? Ulama Hambali menyatakan boleh menggunakan sabun atau shampoo sebab tujuannya untuk membersihkan dan sabun semisal dengan debu bahkan lebih bersih nantinya dari debu. Sedangkan ulama lainnya berpendapat hanya boleh dengan debu atau tanah karena tidak diketahui ‘illah (sebab) mengapa dengan tanah.
Ulama Hambali menyatakan boleh menggunakan sabun atau shampoo 
sebab tujuannya untuk membersihkan
Ketujuh: Kita tahu di sini bahwa anjing menjilat bejana yang ada airnya. Dan kita diperintahkan untuk mencuci bejana tersebut dan itu berarti airnya dibuang. Di sini dapat dipahami bahwa air tersebut sudah tidak suci lagi. Padahal jilatan anjing belum tentu merubah keadaan air walau itu sedikit. Namun tetap mesti dibuang. Menurut Syaikh Asy Syitsri, hal ini berlaku untuk masalah jilatan anjing saja. Sedangkan untuk masalah lainnya jika ada najis yang jatuh pada air yang sedikit –kurang dari dua qullah (200 liter)-, maka tidak berlaku demikian. Namun dikembalikan kepada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَىْءٌ
“Sesungguhnya air itu suci, tidak ada yang dapat menajiskannya.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud, An Nasa’i, Ahmad. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 478). Artinya, jika air itu –sedikit atau banyak- berubah rasa, bau atau warnanya karena najis, barulah air tersebut dihukumi najis. Jika tidak, maka tetap suci....

Kepolisian menggunakan anjing terlatih untuk tugas2 mereka
Jadi apa yang menghalangi umat muslim untuk memelihara anjing? Semua sudah ada faktanya, sudah kita lihat kebenarannya dari dalil-dalil yang ada. Anjing boleh koq dipelihara dengan suatu keperluan... Bisa sebagai anjing penjaga (guard dog) sebagai alarm anti maling karena anjing tidur tidak senyenyak manusia. Dia akan bereaksi jika ada sesuatu yang asing masuk ke rumah kita/teritorialnya... Bisa sebagai companion dog, family dog atau teman kita yang secara otomatis akan terjadi bounding dengan kita sehingga bisa membantu kita, dan bahkan kepolisian menggunakan anjing untuk melacak narkoba, berbagai macam bentuk penyelidikan, bahkan untuk menangani kasus penggerebekan, pengendalian massa (DALMAS) atau huru-hara.... masa seperti itu masih dibilang haram juga? Kebangetan kan? Padahal apa yang mereka kerjakan itu mulia.

Sgt. Stubby
Pernah dengar Sgt. Stubby yang menyelamatkan ratusan tentara Amerika dari gas beracun pada saat Perang Dunia I? Sgt. Stubby juga yang menangkap mata-mata Jerman pada saat itu. Sgt Stubby bukanlah manusia, melainkan seekor anjing yang ikut berperang dan apa yang dilakukannya tidak terbayangkan. 

Jangan pernah memelihara anjing hanya sekedar gaya-gayaan, hanya karena anjing tersebut lucu dan imut, hanya untuk mainan (they're not a toys!) atau hanya sekedar hobby sesaat, Coba bayangkan berapa banyak anjing terlantar diluar sana atau bahkan yang dibuang/dicampakkan oleh majikannya hanya karena anjing tersebut sudah tidak lucu lagi, sudah nggak cute lagi, atau bahkan sudah bosan dan ingin memelihara anjing dari jenis lain sesuai dengan trend yang sedang berkembang? Think about it! 

Well, memelihara anjing memerlukan sebuah komitmen karena memelihara anjing sama dengan merawat anak, mereka mahluk hidup, lucu pada saat masih kecil (puppy), menggemaskan pada saat remaja... gagah dan cantik pada saat dewasa, dan akhirnya tidak menarik lagi secara visual pada saat sudah tua. Banyak pemilik anjing yang mencampakkan anjingnya karena sudah tua, sudah lamban, sudah dinilai tidak berguna.... kalau kita jadi mereka apakah mau kita dicampakkan ketika kita sudah tua dan dipindahkan ke panti jompo? apa bedanya dengan shelter? di shelter sana banyak sekali kasus2 anjing yang dibuang karena berbagai hal diantaranya :

  • 1. Penyakitan (Ya obatin donk bro/sis... kalo ente sakit trus ente dibuang mau ga?),
  • 2. Anjing tsb galak/tidak mau nurut (coba introspeksi deh kenapa ente gak bisa mengendalikannya, ente latih gak anjingnya? kan udah dibilang kalo gak ada waktu utk melatih ya jangan pelihara anjing lah...kan bukan buat gaya2an..iya ga?),
  • 3. Anjing tersebut sudah tua (Buset...ente ownernya emang gak bakalan tua? bakalan tetep bahenol/ganteng selamanya? Gak bro/Sis! Kita manusia...bukan Vampire..hahaha...)

So, jadi Perlakukanlah anjing dengan baik karena mereka mahluk hidup seperti kita...banyak peristiwa-peristiwa heroik dimana anjing dapat mencium hal-hal yang tidak beres, kemudian menyelamatkan nyawa manusia. Mungkin itu saja, banyak teman-teman kita sesama muslim mengaji...tapi mereka tidak mengkaji suatu dalil yang dituliskan. Semoga tulisan yang singkat dan sederhana ini dapat menjadi bahan pembelajaran juga bagi kita umat muslim untuk membuka tabir penghalang untuk kita memelihara anjing atau setidaknya mengenal anjing atau bahkan setidaknya kita bisa menolong anjing terlantar tanpa harus takut dengan masalah klasik, seperti apa yang dikatakan Rasulullah dimana beliau bersabda, “Pada setiap hati yang basah (makhluk hidup) terdapat pahala.” Pada hadits riwayat lainnya disebutkan, bahkan seandainya pun orang itu seorang yang kurang taat.

Binatang akan ikut bersaksi pada saat hisab kita nanti seperti dalam hadist rasulullah saw yang berbunyi :

“Sesungguhnya berita yang akan disampaikan oleh bumi ialah bumi menjadi saksi terhadap semua perbuatan manusia, sama ada lelaki ataupun perempuan terhadap apa yang mereka lakukan di atasnya. Bumi akan berkata: Dia telah melakukan itu dan ini pada hari itu dan ini. Itulah berita yang akan diberitahu oleh bumi.” (HR. Imam Tirmizi).

Well, I’m a moslem, and im a dog lover....semoga tulisan sederhana ini berguna bagi kita semua....   Wassalam! (Reza Irmansyah)







  SIFAT2 MULIA ANJING
  YANG PATUT DITELADANI
  OLEH UMAT MANUSIA.

    Berdasarkan Penuturan :
    Al-Hasan Al-Bashri (الحسن بن أبي الحسن البصري)


   Al-Hasan Al-Bashri (bahasa Arab:الحسن بن أبي الحسن البصري‎ ; Abu Sa'id al-Hasan ibn    Abil-Hasan Yasar al-Bashri) (Madinah642 - 10 Oktober 728)   
   adalah ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada masa awal   
   kekhalifahan UmayyahKisah ini diceritakan oleh Al-Hassan Al-Bashri r.a, 
   mengatakan bahwa pada anjing ada sifat mulia yang perlu diteladani oleh setiap 
   orang mukmin.


Pertama :
Anjing itu senantiasa lapar,dia jarang makan sampai kenyang. Sifat ini adalah sifat orang-orang soleh dimana mereka tidak berada dalam keadaan terlalu kenyang. Malah sering pula berpuasa.

Kedua :
Anjing tidak mempunyai tempat yang tetap.Dia selalu berpindah randah mengikut keperluannya. Sifat ini adalah sifat orang-orang yang bertawakkal kepada Allah. Sering berhijrah ke tempat atau arah yang lebih baik baginya dan Rabbnya.

Ketiga :
Anjing tidak tidur pada waktu malam,melainkan sedikit sahaja.Dia selalu berjaga-jaga. Sifat ini sama seperti sifat orang-orang yang cintakan Allah, senantiasa renggang punggungnya dari tempat tidur karena bermunajat kepada Allah. Di saat orang dibuai mimpi indah, dia bangun bersengkang mata, bermunajat dan mencari ridha Sang Khaliq.

Keempat :
Jika anjing mati,dia tiada barang yang diwariskan dan tidak ada pula yang mewaris. Sifat ini adalah sifat hamba-hamba Allah yang zuhud. Tidak terikat dengan kesenangan dunia. Apa yang ada digunakan dengan sederhana. Tidak pernah tergila-gilakan mencari harta dunia seperti kita semua.

Kelima :
Anjing tidak suka meninggalkan tuannya, tidak merajuk atau melarikan dirinya daripada tuannya sekalipun dipukul dan dimarah. Sifat inilah tanda-tanda yang dimiliki oleh para murid yang siddiqin yang sedang belajar dengan Gurunya. Tidak marah dan tidak merajuk walaupun dia diuji dengan berbagai-bagai ujian. Sabar itu menjadi tunjang atau tulang belakang dirinya.

Keenam :
Dia lebih ridha dan lebih suka bertempat di tanah, tidur di lantai atau tempat-tempat yang lebih rendah daripada tempat manusia. Ini adalah tanda-tanda orang yang tawadu’, orang-orang yang suka merendah diri dan tidak menyombong. Tidak berharap kepada kemewahan semata-mata, tidak pula mencela dengan kemiskinan dan kesusahan.

Ketujuh :
Jika tempatnya diambil alih oleh orang lain atau ditempati oleh benda lain, dia pindah ke tempat lain tanpa merasa marah atau berdendam. Inilah tanda-tanda hamba Allah yang ridha akan bahagiannya. Tidak merasa memiliki atau menguasai.

Kedelapan :
Jika ia dipukul, dihalau atau dibaling dengan benda-benda yang menyakitkan, dia menerimanya & pergi dengan ikhlas.Tidak ada perasaan dendam kesumat terhadap perkara-perkara yang lepas atau penuh dendam ingin membalas. Perlawanannya hanya untuk membela diri. Inilah tanda-tanda hamba Allah yang kusyuk.

Kesembilan :
Jika anjing melihat orang makan,dia melihat saja dari jauh, tidak meminta-minta atau menganggu.Jika diberi makan atau tidak diberi,dia diam sahaja. Ia tidak berusaha merampas apa yang tidak diberikan atau yang bukan haknya. Inilah sifat orang miskin yang redha akan pemberian Allah s.w.t. Bersyukur apa yang dikurniakan Allah kepadanya.

Kesepuluh :
Jika dia berjalan atau pergi dari tempat asalnya, tidak menoleh-noleh ke belakang. Inilah tanda-tanda orang yang susah. Tidak terikat dengan kesenangan, dan tidak pula memandang tinggi pada kesenangan duniawi.








FATWA MUI TENTANG MEMELIHARA ANJING BAGI UMAT MUSLIM !!!



SURAT KEPUTUSAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA
KABUPATEN GARUT
Nomor: Kep-01/MUI-GRT/Kom-Fatwa/III/2005
Tentang
PEMELIHARAAN ANJING DI KABUPATEN GARUT

Bismillahirrahmanirrahim
Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Garut :
MENIMBANG
:
a.    Bahwa untuk mengantisipasi, meminimalisasi dampak negatif dan membahayakan bagi lingkungan serta menjaga hal-hal yang tidak diharapkan berkenaan dengan pemeliharaan anjing dipandang perlu menetapkan fatwa.
b.    Bahwa untuk terlaksananya poin di atas, perlu ditetapkan berdasarkan keputusan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Garut

MENGINGAT
:
1.    Sesuai dengan ayat dalam Al Qur'an Al Karim ;
a.    Mereka menanyakan kepadamu: "Apakah yang dihalalkan bagi mereka?" Katakanlah: "Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya". (Al Maidah 4)
b.    Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Qs. Al Maidah 3)
c.     Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. ( Qs. Al Anfaal 38 )





2.    Sesuai dengan beberapa Hadits Riwayat Bukhori Muslim ;
a.    682 Diriwayatkan daripada Saidatina Aisyah r.a, isteri Nabi s.a.w katanya: Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Ada empat jenis binatang jahat yang boleh dibunuh di tanah halal ataupun di tanah haram, yaitu burung elang, burung gagak, tikus dan anjing liar.
b.    683 Diriwayatkan daripada Abdullah bin Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Tidak berdosa bagi orang yang membunuh lima jenis binatang walaupun di tanah haram dan mereka pula dalam keadaan berihram. Binatang - binatang tersebut ialah tikus, kalajengking, burung gagak, burung elang dan anjing liar.
c.     914 Diriwayatkan daripada Abi Mas'ud al-Ansari r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w melarang (memanfaatkan) hasil penjualan anjing, hasil pelacuran dan mengupah tukang tilik.
d.    915 Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w memerintahkan supaya membunuh anjing.
e.    916 Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Sesiapa yang memelihara anjing selain dari anjing untuk menjaga ternakan dan anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya dikurangkan sebanyak dua qirat (kinayah yaitu ibarat bagi ganjaran pahala yang sangat besar).
f.     917 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Daripada Rasulullah s.a.w, baginda bersabda: Sesiapa yang memelihara anjing selain dari untuk berburu atau menjaga ternak dan ladang, maka setiap hari pahala amalannya akan berkurang  sebanyak dua qirat
g.    918 Diriwayatkan daripada Sufian bin Abu Zuhair r.a katanya: Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa yang memelihara anjing bukan untuk menjaga ladang atau ternak, maka setiap hari pahala amalannya akan berkurang sebanyak satu qirat.
h.    1135 Diriwayatkan daripada Adiy bin Hatim r.a katanya: Wahai Rasulullah, aku telah melepaskan anjing-anjing yang sudah terlatih untuk berburu, anjing-anjing tersebut membawa binatang buruan itu kepadaku. Aku telah  membaca Bismillah (menyebut nama Allah) padanya. Baginda bersabda: Apabila kamu menyuruh anjingmu yang telah terlatih dan kamu telah  menyebut nama Allah atasnya, maka makanlah binatang buruan itu. Aku bertanya: Sekalipun anjing-anjing itu telah membunuhnya? Baginda menjawab: Ya, sekalipun anjing-anjing itu telah membunuhnya jika tidak ada anjing lain yang turut bersamanya. Aku bertanya lagi kepada baginda: Bagaimana jika aku memburu binatang dengan menggunakan panah lalu terkena tidak melalui matanya. Baginda menjawab: Apabila kamu memburu dengan menggunakan panah lalu terkena melalui matanya, maka makanlah. Tetapi jika terkena dari bahagian belakangnya (bukan dengan matanya) maka janganlah kamu makan.

i.      1136 Diriwayatkan daripada Abu Sa'labah al Khusyani r.a katanya: Aku telah datang menemui Rasulullah s.a.w lalu berkata: Wahai Rasulullah, kami tinggal di bumi satu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Kami makan dengan menggunakan bekas mereka dan di situ aku berburu. Aku berburu dengan menggunakan panah, terkadang dengan menggunakan anjingku yang telah terlatih dan terkadang pula dengan menggunakan anjingku yang tidak terlatih. Ceritakanlah kepadaku apa yang halal untuk kami dari semua itu. Baginda bersabda: Apa yang kamu katakan bahwa kamu tinggal di negeri kaum Ahli Kitab lalu kamu makan dengan menggunakan bekas (wadah) mereka, sekiranya kamu boleh dapati selain dari bekas (alat makan) mereka, janganlah kamu makan di dalam bekasnya. Kalau kamu tidak dapati selainnya, basuhlah dahulu dan makanlah di dalam (alat) bekasnya. Mengenai kamu berburu di tanah pemburuan, apa yang kamu lontar dengan panah sebutlah nama Allah kemudian makanlah dan mengenai hasil buruan yang kamu dapatkan dengan menggunakan anjingmu yang telah terlatih, sebutlah nama Allah kemudian makanlah. Adapun hasil buruan yang kamu dapatkan dengan menggunakan anjingmu yang tidak terlatih, jika kamu dapat menyembelihnya, maka makanlah.
j.      1235 Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a katanya: Daripada Nabi s.a.w baginda bersabda: Malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang terdapat anjing atau gambar-gambar.
k.    1316 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Ketika seorang lelaki sedang berjalan di jalanan dan beliau amat kehausan, tiba-tiba beliau terjumpa sebuah telaga. Beliau segera turun ke dalam telaga tersebut untuk meminum airnya. Kemudian apabila beliau keluar dari telaga tersebut, beliau melihat seekor anjing mengeluarkan lidahnya menjilat-jilat debu karena kehausan. Lelaki tersebut berkata di dalam hatinya: Anjing ini mesti kehausan seperti aku. Oleh itu, beliau turun semula ke dalam telaga dan memasukkan air ke dalam kasutnya yang diperbuat dari kulit yaitu khuf dan menggunakan mulutnya untuk mengigit kasut tersebut supaya dapat membawa naik kasut yang berisikan air itu untuk diberikan kepada anjing tersebut. Melihat hal itu, Allah berterima kasih kepadanya, dan mengampuninya. Para Sahabat bertanya: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya perbuatan kita terhadap binatang seperti anjing tersebut boleh mendapatkan pahala? Rasulullah s.a.w menjawab: Setiap yang mempunyai roh (bernyawa) ada pahalanya.
l.      1317 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w bersabda: Sesungguhnya seorang wanita pelacur melihat seekor anjing sedang mengelilingi sebuah telaga pada hari yang sangat panas. Anjing itu berusaha menjelirkan lidahnya kerana kehausan. Beliau kemudian menggunakan kasutnya yang dibuat dari kulit yaitu khuf untuk mengambil air telaga tersebut sehingga anjing tadi dapat minum. Oleh kerana perbuatannya itu, dosa wanita tersebut diampunkan.

m.   Hadits riwayat Ahmad, Abu Daud, Nasa’i, Turmudzi dan Ibnu Hibban dalam shahihnya dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda ; “Malaikat Jibril as. mendatangiku dan berkata, ‘Tadi malam saya datang dan tidak ada ada yang menghalangiku masuk kecuali patung diatas  pintu, tirai bergambar di rumah dan anjing’. Karena itu perintahkanuntuk memotong kepala patung hingga seperti pohon, memotong tirai itu dan jadikan dua buah bantal untuk diinjak, dan perintahkan agar anjingnya keluar”.
n.    Hadits riwayat Bukhori bahwa Nabi saw. bersabda : “ Jika anjing menjilat bejana salah seorang diantara kalian, hendaklah dicuci tujuh kali, satu diantaranya dengan tanah”.
o.    Hadits Riwayat Bukhori dan Abu Daud, Nabi saw. bersabda “ Kalau sekiranya anjing anjing itu bukanlah suatu umat diantara umat umat yang lain, tentu sudah kuperintahkan untuk membunuhnya”.
3.    Beberapa kaidah Fiqh sebagaimana berikut ;
a.    Al-ashlu fi al ‘adah al-af’wu, wa bi’ibarati ukhra ; Al-ashlu fi al-‘uquudi wa al-mu’amalati ash-shihhatu hatta yaqumu dalilu ‘ala al-buthlani wa at-tahrimi (Al Bayan Hal. 230) artinya : “ Asal dalam kebiasaan adalah dimaafkan (dibolehkan), dalam kaidah lain, pada dasarnya dalam setiap ikatan (perjanjian) dan muamalah adalah sah sehingga ada dalil atas pembatalan dan pengharamannya”.
b.    Al-aslu fi al-asyya’i al-ibahah hatta yaqumu dalilu ‘ala tahrimihi. Artinya Pada dasarnya segala sesuatu adalah boleh sehingga ada dalil atas pengharamannya.
c.     Daf’u al-mafasid muqaddamun ‘ala al-jalbi al-mashalih. Artinya : “ Menolak segala (tindakan) kerusakan harus didahulukan daripada (upaya) perbuatan kemashlahatan “.
4.    Pendapat Ahli Fikih sebagaimana berikut ;
a.    Menurut pendapat madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali bahwa boleh memelihara anjing yang terlatih (al kalb al mu’allam) untuk keperluan berburu, memenuhi kebutuhan hidup, penjaga ladang dan yang sebanding fungsinya. (Kitab al Fiqh al Islamy jilid 4 hal. 392, 447 dan 743 dan jilid 8 hal 45 dan 189)
b.    Menurut ulama muta’akhir Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al Halal wal Haram fi Islam terbitan Darul Ma’rifah dan terjemahan versi Indonesia ‘Halal Haram dalam Islam’ terbitan Intermedia, Solo, bulan Oktober 2003 dijelaskan bahwa diantara yang dilarang Nabi saw. adalah memelihara anjing di rumah tanpa ada suatu alasan untuk keperluan.  Larangan ini tidak lain untuk anjing yang dimiliki (dipelihara) bukan untuk keperluan atau manfaat tertentu. Sebagian ahli fiqih berpendapat bahwa larangan memelihara anjing tersebut adalah makruh bukan haram, kecuali pemeliharaan anjing untuk pemburu, penjaga ternak, kebun dan sejenisnya adalah boleh. Makruh adalah suatu hal yang dibenci atau larangan Allah SWT. yang tidak dikenai sangsi haram. Hanya saja orang yang mempermudah dan mengabaikan hal yang makruh, cenderung terjerumus kedalam hukum haram.
5.    Pandangan keilmuan dan realitas pemeliharaan anjing ;
a.    Menurut Dr. Graard Pentsmar dalam majalah Kosinos Jerman yang dinukil dan diterjemahkan oleh majalah Nurul Islam edisi II Rabiuts Tsani sebagaimana disadur dalam buku ‘Halal Haram Dalam Islam’ dijelaskan sebagaimana terlampir.
b.    Berdasarkan laporan dari Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan  Pemerintah  Kabupaten Garut bahwa telah terjadi penggigitan oleh seekor anjing rentan rabies di beberapa wilayah pedesaan di kecamatan Cisurupan, Bayongbong, Sukaresmi dan kecamatan lainnya. Bangkai anjing tersebut dikemas sebagai bahan specimen untuk pemeriksaan laboratorium dan telah dikirim ke Balai Besar Veteriner Yogyakarta dan diterima oleh BBVET Wates Yogyakarta pada tangal 15 Februari 2005. Perlu juga diketahui bahwa perkembangan populasi anjing di Kabupaten Garut tahun 2005 mencapai 18.169 ekor yang berpotensi sebagai salah satu daerah yang memiliki status ‘Daerah Tertular Rabies’ di propinsi Jawa Barat. Tentu saja, hal ini cukup potensial berdampak negatif dan membahayakan bagi lingkungan warga masyarakat khususnya di Kabupaten Garut yang perlu penanganan khusus secara bersama sama.

MEMPERHATIKAN
:
1.    Hasil musyawarah Komisi Fatwa MUI Kabupaten Garut yang dihadiri oleh Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan pada hari Kamis, 10 Maret 2005 M.
2.    Hasil dari kajian dan masukan anggota komisi fatwa dari Draft Surat Keputusan Komisi Fatwa tentang Pemeliharaan Anjing.
3.    Surat Nomor : 524.3/226/KKP/II/2005 Perihal Permohonan Fatwa MUI / Hukum memelihara Anjing tertanggal 4 Maret 2005 M dari Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan  Pemerintah  Kabupaten Garut
4.    Pendapat, usul dan saran-saran peserta musyawarah komisi fatwa MUI Kabupaten

Dengan bertawakkal kepada Allah SWT



M E M U T U S K A N

MENETAPKAN






:
1.    Hukum memelihara anjing untuk tujuan kebutuhan dan manfaat tertentu serta segala perkara yang berkaitan dengan pemeliharaannya adalah MUBAH (dibolehkan), jika tanpa adanya keperluan dan manfaat maka hukumnya MAKRUH.

2.    Dalam memelihara anjing, semestinya tidak berkeliaran didalam rumah, ditempatkan dalam kandang atau pekarangan khusus, agar tetap terpelihara, terjaga dan tidak menimbulkan dampak negatif atau membahayakan bagi lingkungan sekitarnya. Adapun jika diambil manfaatnya sebagai binatang pemburu atau sebagai penjaga untuk keamanan semestinya memperoleh didikan (terlatih) untuk kepentingan tuannya (pemiliknya).

3.    Bagi setiap pemeliharaan anjing yang tidak terpelihara, terjaga dan berkeliaran yang dapat menimbulkan dampak negatif dan membahayakan seperti mengganggu ketertiban umum dengan rasa kekhawatiran, ketakutan dan akibat gigitan serta bisa berakibat fatal yaitu penyakit rabies, maka perlu penanganan khusus oleh pihak berwenang, kecuali anjing liar tanpa diketahui kepemilikannya sebaiknya dibunuh sehingga populasi anjing terbatas pada yang diperlukan saja yang ditangani langsung oleh pihak berwenang sesuai prosedur yang berlaku.

4.    Dalam konteks wilayah Kabupaten Garut yang berkaitan dengan pemeliharaan anjing dan penanganan anjing liar diatur oleh peraturan atau ketentuan yang berlaku oleh Pemerintahan Kabupaten Garut.

5.    Surat Keputusan ini disampaikan  kepada pihak pihak yang terkait untuk diketahui dan dilaksanakan sebagaimana mestinya.

6.    Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan, dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan dirubah dan diperbaiki sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di  : G a r u t
                                                          Tanggal         :18  Shafar  1426 H
                                                                              29   Maret  2005 M

DEWAN PIMPINAN
MAJELIS ULAMA INDONESIA
KABUPATEN GARUT

Ketua Komisi,




KH. AAM RIDWAN, Lc
Sekretaris Komisi,




Drs. H. SASA SUNARSA, M.Ag